Welcome! سلام

“jika langit adalah
lembaran kertas dan lembayung senja adalah tinta emas,
maka semoga tinta itu akan menuliskan semburat
yang tersembunyi diantara arak-arakan awan kepada langit,
agar dia mampu meng'ejanya








Sabtu, 12 Januari 2013

Macam-Macam Dzikir Dalam Tharekat

Dari segi materi lafalnya, dzikir ada 3 macam


1) Seseorang melafalkan ismu dzat Allah Allah sebanyak-banyaknya

sebagaimana firman Allah dalam surat Hamim Sajadah ayat 30,
Sesungguhnya orang-orang yang berkata : Tuhan kita adalah Allah, kemudian mereka tekun maka turunlah malaikat pada mereka, dan malaikat itu memberi kabar : gembiralah kalian dengan apa yang telah dijanjikan pada kalian.” Dan hadits Nabi diriwayatkan Thabrani dan Baihaqi. Rasulullah bersabda kepada sayyidina Ali : “Ya Ali, pejamkan kedua matamu, lekatkan (rapatkan) kedua bibirmu, naikkan lidahmu dan berkatalah (berzikirlah) Allah Allah.”

Allah berfirman :
Katakanlah, Allah-lah (yang menurunkannya), kemudian (sesudah kamu menyampaikan al Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. (QS. al An’am : 91)
Rasulullah bersabda :

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتىَّ لاَ يُقَالَ فِى اْلاَرْضِ : اَلله ….اَلله
Hari kiamat tidak akan terjadi sampai di atas bumi ini tidak ada lagi orang yang menyebut Allah,… Allah. (HR. Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)
Seorang yang berzikir lafal Allah Allah mesti disertai dengan ‘wukuf qalbi’ yakni waktu mengucapkan ismu dzat tersebut di hatinya, seseorang memperhatikan mengalirnya lafal itu dari hati. Wukuf qalbi adalah hadirnya Mursyid pada hati seseorang, sehingga tidak ada yang diingat kecuali lafal Allah Allah itu pada wajah sang Mursyid. Hal ini andaikata bisa diumpamakan maka keadaannya Mursyid dan Allah itu seperti air dan teh yang menyatu dan bercampur. Mana airnya mana tehnya susah dibedakan, keduanya serupa. Tetapi air tidak akan menjadi teh dan teh pun tidak akan menjadi air. Itulah perbedaan Tuhan dan hamba.

Hamba dan Tuhan diumpamakan pula sebagai kawat dan listrik. Keduanya tidak bisa dibedakan. Kawat itu menyerupai listrik dan listrik pun menyerupai kawat. Akan tetapi kawat tidak akan menjadi listrik dan listrik pun tidak akan menjadi kawat.

Dzikir yang disertai wukuf qalbi atau hadir mursyid adalah dzikir yang berada di maqam fana, yang disebut dengan fana pada mursyid yakni murid meleburkan diri pada ruhani mursyid. Dzikir fana pada mursyid merupakan pendahuluan fana kepada Allah. Dzikir yang tidak disertai wukuf qalbi atau dzikir yang tidak disertai mengingat maknanya adalah dzikir yang lupa. Hal ini serupa dengan jasad tanpa ruh. Dzikir yang demikian itu tidak mengandung pahala dan khasiat apapun.

Adapun makna lafal Allah Allah ialah antara lain : Allah adalah maksud tujuanku, Allah adalah yang aku cari, Allah adalah yang aku cintai, wahai Allah engkaulah yang aku maksud, Allah tidak ada sekutu bagi-Nya, Allah adalah zat yang ada, Allah adalah zat yang disembah dan engkau adalah Allah tidak yang lain. Akan tetapi pendapat yang paling benar menurut guru-guru thareqat Naqsyabandi, penyebutan Allah tidak disertai dengan rangkaian kata seperti tersebut di atas. Menyebut Allah cukup melirik nama zat Tuhan tanpa diembel-embeli atau dirangkai, karena tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Allah. Kalau Allah diserupakan dengan makhluknya berarti bertentangan dengan pernyataan al Qur’an.



2)Dzikir nafi dan isbat

Dzikir nafi isbat yaitu dzikir dengan mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah” (Laa Ilaaha = Nafi, meniadakan Tuhan-Tuhanan lain ; Illallah = Isbat, menetapkan Allah saja sebagai Tuhan). Jadi makna kalimat tauhid itu adalah tiada Tuhan selain Allah. Jelasnya ada lima makna dari kalimat itu antara lain : Pertama, tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah; Kedua, tidak ada yang dituju kecuali Allah; Ketiga, tidak ada yang dicari kecuali Allah; Keempat, tidak ada yang wujud di alam ini kecuali Allah; Kelima, tidak ada yang dicintai kecuali Allah.

Menurut Rasulullah Saw lafal dzikir yang paling utama adalah dzikir Laa Ilaha Illallah sebagaimana sabda beliau,

اَفْضَلُ مَاقُلْتُ اَناَ وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبِلِي لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
“Yang paling utama apa yang saya ucapkan dan yang diucapkan para nabi sebelum aku adalah Laa Ilaaha Illallah Wahdahuu Laa Syariikalah (Tiada Tuhan selain Allah dengan Maha Esanya dan tiada sekutu bagi-Nya).”

Dalam hal ini juga Rasulullah bersabda,
Siapa yang mengucapkan ‘Laa Ilaaha illallah Wahdahuu Laa Syariikalah Lahul Mulku Walahul Hamdu Wahuwa Alaa Kulli Syai’in Qadiir’ (tiada Tuhan selain Allah dengan Esa-Nya tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu) dibaca setiap hari sebanyak seratus kali, maka kebaikannya menandingi atau sebanding dengan memerdekakan sepuluh budak, dan dicatat untuknya kebaikan seratus macam, dan seratus macam kejelekannya dihapus. Di samping itu dia bebas dari godaan syetan pagi harinya sampai sore. Dan seorang pun tidak bisa mengungguli amalannya kecuali orang yang membaca kalimat itu lebih banyak darinya.”

Pelaksanaan dzikir Laa Ilaaha Illallah itu harus memakai cara. Adapun cara yang paling bagus adalah cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada sayyidina Ali dalam sebuah hadis sebagai berikut:

Sayyidina Ali bertanya. Bagaimana aku berzikir Ya Rasulullah? Maka Rasulullah menjawab. Caranya, pejamkan kedua matamu dan dengarkanlah dari aku sebanyak tiga kali, dan ucapkanlah seperti apa yang aku ucapkan, waktu engkau mengucapkan itu, aku mendengar, maka Rasulullah mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallah’ sebanyak tiga kali, dengan kedua mata terpejam. Kemudian sayyidina Ali mengucapkan seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah.


3)Dzikir dengan lafal nama kekasih Allah

Nama-nama kekasih Allah Swt baik yang berpangkat nabi, rasul dan berpangkat waliyullah dari kalangan shidiqin, syuhada’ dan shalihin dapat dibuat untuk berdzikir dalam rangka dzikir kepada Allah Swt. Karena mereka senantiasa dzikir kepada Allah Swt dalam keadaan apa saja. Dzikir mereka telah dibalas oleh Allah Swt. Bahkan Allah telah berdzikir kepada mereka. Dalam kaitan ini Allah Swt berfirman dalam surat al Baqarah ayat 152

Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur akan nikmat-Ku.
Nama Nabi Muhammad telah diangkat derajatnya sejajar dengan nama Allah Swt. Di mana tiada orang yang membaca kalimah syahadat atau kalimah tauhid (Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah) kecuali nama Muhammad disertakan di sampingnya sehingga menjadi dua kalimah syahadat
(Wa Asyhaduanna Muhammadan Rasulullah) dalam hal ini di ungkapkan pula oleh Allah dalam surat ai Insyirah ayat 4,
Dan Kami telah tinggikan sebutan namamu.”

Dzikir berbalas ini juga dilakukan oleh Allah Swt terhadap khalifah Allah dan orang-orang mukmin sebagaimana tertera dalam hadits qudsi :

Dalam beberapa kitab yang memuat kompilasi hadits shahih, Nabi Saw bersabda :

قَالَ الله ُتَعَالَى: اَناَ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى وَاَنَا مَعَهُ اِذَا ذَكَرَنِى فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَاِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ
Allah Swt berfirman, Aku ini (bertindak) sesuai dengan prasangka hamba-Ku padaku. Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Apabila ia mengingat-Ku di dalam hatinya, maka Aku pun menyebutnya sendiri. Jika dia mengingat-Ku di tengah-tengah orang banyak, maka aku akan menyebutnya di tengah-tengah orang banyak yang lebih mulia dari pada orang banyak saat ia mengingat-Ku. (HR. al Bukhari dan ahli hadits lainnya).

Orang-orang yang telah mencapai pangkat “didzikirkan Allah” adalah orang-orang yang dikasihi atau orang-orang yang menjadi kekasih Allah Swt seperti firman Allah dalam hadits qudsi berikut ini :

اِنَّ اَوْلِيَائِ مِنْ عِبَادِ وَاَحِبَّائِ مِنْ خَلْقِ الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ بِذِكْرِ وأُذْكَرُ بِذِكْرِهِمْ
Sesungguhnya para Wali-Ku dari golongan hamba-Ku dan para Kekasih-Ku dari golongan makhluk-Ku adalah orang-orang yang diingat apabila Aku diingat. Dan Aku diingat apabila mereka diingat. (HR. at Tabrani, al Hakim dan Abu Na’im)

Bapak Prof. DR. Kadirun Yahya menafsirkan tentang hadits di atas sebagai berikut:
“Sebut nama Wali-Ku / Kekasih-Ku, Aku telah hadir pada sisinya. Sebut nama Muhammad dalam shalawat, Allah langsung hadir pada sisinya dan bersama Nabi Muhammad datang kepada kita untuk memberi pertolongan. Hal ini jelas Kata Allah bahwa: Nama-Ku tak bercerai dengan nama Muhammad dan nama Wali-Ku / Kekasih-Ku.”


Dari segi keras dan lembutnya: Dzikir Jahr dan Dzikir Khafi

Dzikir terbagi ke dalam dua macam : Dzikir jahr dan dzikir khafi. Masing-masing keduanya mempunyai pijakan dalil dari al Qur’an dan sunah. Berdzikir dengan lisan bisa dilakukan dengan melafalkan huruf perhuruf secara lantang (bersuara). Karenanya, dzikir jenis ini tidak mudah untuk dipraktekkan setiap saat. Sebab pada saat melakukan jual beli di pasar dan yang sejenisnya sama sekali akan mengganggu seorang yang sedang berdzikir. Dengan demikian, otomatis lisannya akan berhenti berdzikir.

Berbeda halnya dengan dzikir hati, yaitu dzikir dengan mengonsentrasikan diri pada suatu makna
(di dalam hati) yang tidak tersusun dari rangkaian huruf dan suara. Karenanya, seorang yang sedang melakukan dzikir jenis ini tidak akan terganggu oleh apapun juga

Berdzikirlah mengingat Allah dengan hatimu tanpa bersuara. Tanpa diketahui oleh orang lain dan tanpa ada lafal dan ucapan yang dikeluarkan.
Dzikir jenis ini adalah cara berdzikir yang paling utama.
Jenis dzikir ini banyak diamalkan oleh para tokoh.
Oleh karena itulah, para pembesar thareqat naqsyabandi lebih memilih dzikir hati. Juga karena hati merupakan tempat pengawasan Allah, tempat bersemayam iman, tempat bersumbernya rahasia dan tempat bertenggernya cahaya. Hati yang baik akan mengakibatkan jasad seluruhnya menjadi baik. Begitu juga hati yang buruk akan berdampak menjadikan jasad menjadi buruk. Ini seperti yang telah dipaparkan oleh Rasulullah Saw.

Karenanya, seorang hamba tidak dikatakan mukmin, jika hatinya tidak terpaut pada apa yang harus diimaninya. Begitu juga ibadah yang menjadi tujuan tidak akan sah jika tidak menyertainya dengan niat (di dalam hatinya). Para imam sepakat bahwa semua pekerjaan yang dilakukan oleh anggota tubuh tidak akan diterima kecuali dengan peranan hati. Hati sendiri dapat berperan (mampu berjalan sendiri) tanpa dituntun oleh anggota tubuh lainnya. Jika hati sudah tidak berperan lagi, maka keimanan seseorang tidak akan diterima. Ini disebabkan karena iman merupakan sikap pembenaran apa yang diimani oleh hatinya dengan tulus.


Dalil-dalil keutamaan dzikir
Allah berfirman :

Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka. 
(QS. al Mujadilah : 22)
Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. 
(QS. al Hujurat : 3)

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu. 
(QS. al A’raf : 205)

Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu? 
(QS. al Mujadilah :

Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut. 
(QS. al A’raf : 55)
Hadits al Baihaqi dari Aisyah ra. :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ الله عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْضُلُ الذِّكْرُ (اى الخفى) عَلَى الذِّكْرِ (اى الجهر) بِسَبْعِيْنَ ضِعْفًا اِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ رَجَّعَ الله ُالْخَلاَئِقَ اِلَى حِسَابِهِ وَجَائَتِ الْحَفَضَةُ بِمَا حَفَظُوْهُ وَكَتَبُوْا: قاَلَ تَعَالَى اُنْظُرُوْا هَلْ بَقِيَ لِعَبْدِى مِنْ شَيْئٍ؟ فَيَقُوْلُوْنَ مَا تَرَكْنَا شَيْئًا مِمَّا عَلِمْنَاهُ وَحَفِظْنَاهُ اِلاَّ وَقَدْ اَحْصَيْنَاهُ وَكَتَبْنَاهُ فَيَقُوْلُ الله تَعاَلَى: اِنَّ لَكَ عِنْدِى حَسَناً وَاِناَّ اَجْزِيْكَ بِهِ وَهُوَ الذِّكْرُ الْخَفِى
Dari Aisyah ra. beliau berkata bahwa Nabi Saw pernah bersabda, “Dzikir (dengan tidak bersuara) lebih unggul dari pada dzikir (dengan suara) selisih tujuh puluh kali lipat. Jika tiba saatnya hari kiamat, maka Allah akan mengembalikan semua perhitungan amal semua makhluk-makhluknya sesuai amalnya. Para malaikat pencatat amal datang dengan membawa tulisan-tulisan mereka. Allah berkata pada mereka Lihatlah apakah ada amalan yang tersisa pada hamba-Ku ini? Para malaikat itu menjawab, kami tidak meninggalkan sedikit pun amalan yang kami ketahui kecuali kami mencatat dan menulisnya. Allah lalu berkata lagi (pada hamba-Nya itu), kamu mempunyai amal kebaikan yang hanya Aku yang mengetahuinya. Aku akan membalas amal kebaikanmu itu. Kebaikanmu itu berupa dzikir dengan sembunyi (tak bersuara).” (HR. al Baihaqi)


Abu Awanah dan Ibnu Hibban meriwayatkan dalam masing-masing kitab kumpulan hadits shahih mereka, juga al Baihaqi di sebuah hadits berikut :

خَيْرُ الذِّكْرِ الْخَفِى وَخَيْرُ الرِّزْقِ مَا يَكْفِي وَقَالَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الذِّكْرُ لاَ تَسْمَعُهُ الْحَفْظَةُ يَزِيْدُ عَلَى الذِّكْرِ تَسْمَعُهُ الْحَفَظَةُ بِسَبْعِيْنَ ضِعْفًا
Sebaik-baik dzikir adalah dzikir dengan samar (khafi) dan sebaik-baiknya rezeki adalah rezeki yang mencukupi, Nabi juga bersabda : “Dzikir yang tidak terdengar oleh malaikat pencatat amal (maksudnya dzikir khafi) mengungguli atas dzikir yang dapat didengar oleh mereka (dzikir jahri) sebanyak tujuh puluh kali lipat.” (HR. al Baihaqi)


Menurut ulama :
Yang mentakhrij hadits tersebut, hadits itu dinilai sebagai hadits hasan lighairihi. Hadits-hadits lainnya yang berbicara tentang keutamaan dzikir khafi masih banyak sekali.

Sebagian orang yang telah mencapai tahapan makrifat mengatakan,
Berdzikir dengan hati adalah pedangnya orang-orang yang meniti jalan ruhani. Dengan dzikir itu, mereka bisa membunuh habis musuh-musuh mereka dan menjadi tameng dari bahaya-bahaya yang merongrong mereka.” Orang-orang yang telah makrifat ini juga berkata, “Siapa saja yang diinginkan baik oleh Allah, maka akan dibukakan penutup hatinya dan ditanamkan keyakinan di dalamnya.”


Syaikh Abu Said al Kharraj berkata,
“Jika Allah ingin menjadikan seorang hamba sebagai kekasihnya, maka dia akan membukakan pintu pengingatnya. Jika hamba tersebut sudah merasa kelezatan dalam mengingatnya, maka dia akan membukakan pintu keakrabannya lalu diangkatlah hamba itu ke tempat yang serba nikmat dan senang gembira. Setelah itu dia akan mendudukkan hamba tersebut di atas kursi tauhid. Kemudian disingkapkan tirai yang menutupinya. Hamba itu lalu dimasukkan ke suatu ruangan tersendiri. Di sanalah, ia akan bisa melihat kebesaran dan keagungan-Nya. Ketika pandangannya tertuju pada kebesaran dan keagungan-Nya, maka dia sudah tidak merasa lagi sebagai makhluk. Karena saat itu ia telah menjadi masa yang fana. Lalu dia pun selalu berada dalam lindungan-Nya dan merasa terbebas dari berbagai pengakuan-pengakuan dirinya.


Khalid bin Ma’dan berkata,
Seorang hamba pasti mempunyai dua mata di mukanya yang digunakan untuk melihat fenomena dunia. Selain itu, ia juga memiliki dua mata lagi yang terletak di dalam hatinya yang digunakan untuk melihat fenomena akhirat. Ketika Allah menginginkan hamba tersebut menjadi orang yang baik, maka dia akan membukakan kedua mata hamba itu yang ada di dalam hatinya. Dengan demikian, kedua mata hatinya itu mampu melihat rahasia-rahasia keghaiban yang dijanjikan Allah. Lalu ketika Allah menginginkan hambanya, maka Allah tidak memperdulikan apa yang ada dalam hatinya.”


Ahmad bin Hadrawaih juga berkata,
Hati adalah wadah. Jika wadah itu penuh dengan kebajikan maka cahaya-cahaya kebajikan (yang ada di dalamnya) akan keluar menyinari anggota-anggota tubuhnya. Jika wadah itu penuh dengan kebathilan, maka kegelapan yang ada di dalamnya akan bertambah ketika sampai pada anggota tubuhnya.


Dzunnun al Mishri berkata,
Satu jam dengan hati yang baik lebih utama dari pada ibadah seluruh manusia dan jin. Jika malaikat saja tidak masuk rumah yang di dalamnya terpadat gambar atau patung, maka bagaimana para pembawa kebajikan itu mau masuk pada seseorang yang di dalam hatinya dipenuhi dengan sesuatu selain Allah?


Seorang agung yang telah menggapai tahapan makrifat, Abu al Hasan al Syadzili berkata”,
Sebiji atom amalan–amalan hati sama nilainya dengan amalan-amalan lahiriah (anggota tubuh)
.

Ketika Iblis Membentangkan Sajadah



Siang menjelang dzuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu Jum’at. Saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk. Ia masuk dari segala penjuru. Masuk lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lobang pembuangan air. Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga. Masuk ke dalam syaraf mata. Masuk ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap sajadah.

“Hai, Blis!”, Panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu.
Iblis merasa terusik.
“Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!”, Jawab Iblis Ketus.
“Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci. Kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar nanti!”, Kiai mencoba mengusir.
“Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru”.
Kiai tercenung.
“Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu”.
“Dengan apa?”
“Dengan sajadah!”.
“Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?”
“Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!”
“Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru, Blis”.
“Bukan itu saja Kiai”.
“Lalu?”
“Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar”.
“Untuk apa?”
“Supaya, Saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang Kau pimpin, Kiai!”
“Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar, maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam ke-renganggan itu. Di situ Saya bisa ikut membentangkan sajadah.
Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus.
Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil. Orang yang punya sajadah lebar, seenaknya saja membentangkan sajadahnya. Tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang.
Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil, membentangkan saja sajadahnya. Sehingga, sebagian sajadah yang lebar, tertutupi sepertiganya. Keduanya masih melakukan sholat sunnah.
“Nah, lihat itu Kiai!”, Iblis memulai dialog lagi.
“Yang mana?”
“Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka”.
Iblis lenyap. Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf.
Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunah. Kiai akan membuktikan apa yang dikatakan Iblis.
Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya, diatas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil, kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa. Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi diatas, ketimbang menerima dibawah. Diatas sajadah, orang sudah beberbut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Sajadah sudah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas. Pemilik sajadah lebar, diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat, harus lebih diatas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah, yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa. Diatas sajadah, Iblis telah menjagari orang selalu menguasai orang lain.
“Astaghfirullahal ‘adziiiim”, Ujar Kiai pelan.
**
Ba’da Subuh. Orang-orang sudah beranjak dari Masjid. Mereka menuju ke rumahnya masing-masing. Dan beberapa menit, atau beberapa jam kemudian, masing-masing orang sudah disibukkan oleh pekerjaan keseharian. Apalagi kalau bukan untuk mempertahankan hidup. Masjid menjadi lengang dari jamaah. Sementara, Iblis tetap duduk bersimpuh di depan mihrab. Ia begitu khusyuk. Seolah, Iblis sedang bertaqorrub kepada Tuhan. Dalam keheningan, isak tangis Iblis terdengar samar. Sesekali, Iblis menyeka air matanya yang ber-urai.
Tak lama kemudian, Kiai datang. Iblis tak menghiraukan kedatangan Kiai. Sesaat, ia memperhatikan Iblis itu. Tetapi kemudian, Kiai mengalihkan pandangannya ke hadapan sajadah, dan melakukan sholat sunnah.
Usai sholat, Kiai kembali memperhatikan gerak-gerik Iblis, yang masih tetap khusyuk. Dan tidak berapa lama, Iblis mengusap mukanya dengan kedua telapak tangannya. Ia baru selesai melakukan ritual ke-agamaan. Matanya masih sembab. Karena sejak pagi tadi, Iblis itu menangis.
“Blis, Aku ini heran”, Kata Kiai setelah duduk di sebelah Iblis.
“Kenapa, Kiai?”
“Kau ini aneh. Kau kan mahluk yang diusir dari Sorga oleh Tuhan. Tetapi, hari ini, Kau menangis sejadi-jadinya di hadapan Tuhan”.
Mata Iblis berbinar. Ia merasa berhasil menarik perhatian Kiai.
“Saya hanya berusaha, Kiai. Siapa tahu, dengan tangisan ini, saya dan kawan-kawan bisa mendapat pengampunan”.
“Tetapi, bagaimana bisa Kau menangis, sementara, selama ini Kau sudah menanam kebencian terhadap Tuhan?”
“Ah, Kiai bisa saja. Tangisan ini kan konsekuensi dari pangakuan dosa saya”.
Kiai tercenung sesaat.
“Tapi, Blis. Selama ini, saya tidak pernah bisa menangis dalam beribadah?”
“Ya, mungkin, anda belum khsusyuk”.
Kiai tersentak.
Selama ini, orang desa selalu meng-elu-elukan beribadahnya Kiai. Tetapi, hari itu, Kiai dikatakan oleh Iblis, Kiai tidak khusyuk beribadah. Ini pukulan berat bagi Kiai. Tetapi, sekalipun dadanya sesak, Kiai tetap mencoba bijak.
“Kalau boleh tahu, kenapa Kau bisa menangis?”, Kata Kiai mengatur emosi.
“Ya, karena saya pernah melakukan dosa”, Jawab Iblis enteng.
“Dosa yang bagaimana?”
“Dosa apa saja. Bisa membunuh, minum-minuman keras, atau juga berzina”.
Kiai kembali tersentak.
Sebab, seumur hidup-nya, Kiai ini belum pernah melakukan dosa yang disebut Iblis.
“Apakah, kalau saya belum pernah melakukan dosa yang Kau sebut tadi, kemudian, saya tidak bisa menangis setiap sehabis sholat?”
“Wah, ya jelas. Kalau sudah melakukan dosa, kan ada penyesalan. Nah, baru kemudian, Kiai bisa menangis pada saat beribadah atau setiap sehabis sholat”, Kata Iblis mulai membuat jebakan.
“Tapi, saya tidak berani berzina. Itu larangan Tuhan. Itu dosa besar?”
“Membunuh!”, Iblis memberi alternatif.
“Wah, apalagi membunuh! Saya ini penakut!”
“Ya, kalau begitu, minum-minuman keras saja. Ini yang paling ringan”.
Kiai tercenung lagi.
“Bagaimana? Kalau Kiai Setuju, nanti malam, saya akan jemput Kiai. Saya akan tunjukkan bagaimana, Kiai harus mulai melakukan dosa, agar nanti, kalau Kiai sholat, Kiai bisa menangis seperti saya”.
**


Waktu Isyak berlalu. Iblis dan Kiai keluar dari Masjid. Orang-orang sekitar hanya menatap heran, ketika ada warga baru yang sudah demikian akrab dengan Kiai mereka. Tapi, tak seorang pun yang berani melarang. Mereka tidak bisa berbuat banyak. Sementara, Iblis sudah membawa Kiai menembus malam.
Pada sebuah Kedai, agak jauh dari perdusunan, tempat Kiai tinggal. Banyak Laki-laki dan perempuan berkumpul di situ. Kata-kata kotor, dan suara manja perempuan kampung yang siap melayani para lelaki, makin jelas terdengar. Bermacam botol minuman keras tersedia di Kedai itu.
“Bagaimana Kiai?”
“Aduh, gila Kau, Blis!”
“Mau minum apa?”, Tanya Iblis ketika keduanya sudah duduk.
“E…e….”
“Tidak perlu gugup Kiai. Nanti juga terbiasa!”
Dua buah botol dipesan. Iblis menatap Kiai. Kiai tampak ragu. Sementara, Iblis sudah menuangkan minuman ke dalam gelas, yang ada di hadapan Kiai.
“Ayolah, Kiai. Setelah minum ini, saya yakin, Kiai bisa lebih khusyuk, dan bisa menangis, ketika nanti Kiai sholat”.
Sedikit demi sedikit, Kiai terkena rayuan Iblis. Tak berapa lama, Kiai sudah mabuk berat. Iblis beri kode pada salah satu perempuan. Salah satu perempuan, kemudian membawa Kiai ke satu rumah, tepat di belakang Kedai.
Langit gelap. Mata Kiai juga menjadi gelap. Sementara, desah napas Kiai dan perempuan itu menjadi satu gerakan erotis yang menegangkan. Keringat bercucuran. Detak jantung keduanya berdegup kencang. Petikan ayat, hadits dan mutiara hikmah, tak lagi mampu membentengi hasrat Kiai. Yang ada hanya napas yang memburu.
Sepertiga malam terakhir, Kiai terbangun. Di sebelahnya, ada perempuan tergolek tanpa busana. Kia terkejut. Ia jadi blingsatan. Ia coba ucapkan kata Istighfar, tetapi, lidahnya kelu. Beberapa kali, Kiai mencoba sebut nama Tuhan. Tapi ia gagal. Ada ketakutan yang tiba-tiba menyusup. Kiai tak sempat lagi, mengingat rentetan kejadian, yang telah membawanya ke tempat itu.
Matanya menjadi gelap. Hatinya juga tersumbat. Sebuah pisau pemotong buah di atas meja ia hunjamkan ke perut perempuan itu. Seketika, jeritan dan lengkingan kesakitan perempuan itu membangunkan warga sekitar. Warga sudah berbondong-bondong. Menggedor dan berkerumun mengitari tempat Kiai dan perempuan itu tidur.
Pagi tiba. Kiai sudah berada di tiang gantungan. Sementara, dari kejauhan, Iblis tertawa lebar.
“Kurang ajar kau Iblis. Kau telah menipuku!” Teriak Kiai protes.
“Kiai, tak ada gunanya Kau memprotes. Kau sudah masuk dalam jeratanku. Kau harus menjalani hukuman berat”.
“Coba Kau selamatkan aku dari tiang gantungan ini, Blis!”
Iblis tertawa. Kali ini lebih lebar.
“Kalau Kiai ingin selamat dari tiang gantungan itu, bersaksilah atas namaku. Lalu tundukkan muka pada ku. Itu sebagai pengakuan Kiai, bahwa Kiai telah mau dan rela menjadi hambaku!”
“Aku adalah hamba Tuhan! Aku bukan hambamu!”
“Tapi pada posisi seperti sekarang, yang dibutuhkan Kiai bukan Tuhan, tetapi aku, yang telah membawa Kiai ke tiang gantungan. Maka segeralah tundukkan muka dan bersaksilah atas namaku!”
Kiai terdiam. Kepalanya tertunduk.
Tetapi, iblis tetap Iblis. Ia tak pernah menyelamatkan Kiai dari tiang gantungan. Iblis lenyap. Kembali pada alam-nya. Ia berlari membawa kemenangan. Dan besok atau lusa, Iblis akan kembali membentangkan sajadah


Senin, 07 Januari 2013

SATU ASA



Memandang hamparan sang megananda...
Dengan baju putih tergerai
Berpijak hamparan awan seputih kapas
Menapaki tangga demi tangga yang tertutup kabut

nun jauh disana kulihat banyak tangan melambai...
Sepasang peri kecil terbang menghampiri
Menuntun jalanku yang semakin lemah

Namun kudengar sayup isak tangis...
memanggilku kembali..
dan gema doa yang tiada henti..
satu bisik itu sangat dekat di telingaku...
Dengan satu asa yang selalu terucap
Semangatlah  ღﷲ~ ALiF ~ ﷲღ aku membutuhkanmu”
dan akupun terbangun...
Kupandangi satu sinar yg redup...
sepasang mata yang penuh cinta
Penuh kedamaian...
Tuhan...Ijinkan aku ...
Mengabdi kepadanya dan kepada-MU
Karena cinta itu begitu besar
Cinta yang selalu berkumandang
menuju jalan-MU

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Di Ujung Perjalanan



Ujung perjalanan ini... kita akan menuju kesana...


Di Ujung Perjalanan




Lembar demi lembar kehidupan ini harus kutulis...
Warna-warni tinta yg telah kugoreskan...
Semakin membuat kehidupan ini bak pelangi
Terkadang keceriaan membuat hari menjadi bgitu indah...
Terkadang kegelisahan membuat hati begitu gundah...

Tuhan...padahal ini hanyalah sebuah perjalanan...
Kenapa terkadang kita begitu sombong...
Tanpa mau sedikit saja menunduk di hadapan-MU
Dengan penuh rasa syukur atas segala nikmat...

Tuhan...sesungguhnya sangatlah ingin ku menggapai syurga-MU
Karena kutak akan sanggup berada di nerakamu
karena-nya..selalu bimbing aku ya Tuhan...
jangan biarkan seluruh hati... jiwa dan anggota tubuhku
berpaling dari-MU Ya Rabb...

LLahi lastu lil firdausi ahla, wala aqwa'alan naril jahimi
fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzanbil'adhimi

(Wahai Tuhanku..aku ini tidak pantas menjadi penghuni syurga...
Tetapi aku tidak akan kuat terhadap panasnya api neraka oleh sebab itu...
terimalah Tobatku serta ampunilah dosa-dosaku..
Karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang mengampuni
Dosa-dosa besar)

Senin, 31 Desember 2012

✈¸,¤´'`°¤,¸✈ .Mereka Musisi Beladiri ✈¸,¤´'`°¤,¸✈ .


Tiga tokoh terkenal ini memiliki kesamaan dalam profesi dan hobi. Mereka sama-sama berprofesi sebagai seniman (aktor film dan musisi) dan sama-sama pehobi beladiri.

Tak lain adalah Elvis Presley, Steven Seagal dan Iwan Fals.
Elvis Presley. Musisi sekaligus aktor film ini menjadi idola dunia di era 60-an. Selain menggilai musik dan menekuni seni peran, Elvis juga memiliki minat besar pada seni beladiri.



Di sela kesibukan show dan syuting, Elvis pun menyempatkan waktu belajar memukul dan menendang di Dojo Karate aliran Shotokan. Tahun 1958 saat mengikuti wajib militer dan ditugaskan di Jerman ia belajar dengan Juergen Seydel, kemudian ketika berlibur di Paris, Perancis ia berlatih dengan Tetsugio Murakami, perintis Karate Shotokan di EropSelain Karate, Elvis juga berguru pada Khang Ree, tokoh Taekwondo di Amerika Serikat. Atas dedikasinya pada seni beladiri, Khang Ree menganugerahinya sabuk hitam kehormatan Taekwondo Dan VII.





Masih belum puas, Elvis melanjutkan hobi beladirinya dengan berlatih beladiri ‘kemasan’ baru, American Kenpo Karate yang diracik sang pendiri, Ed (Edmund) Parker. Tak hanya melatih, salah seorang tokoh beladiri legendaris di Amerika Serikat ini juga kadang menjadi pengawal pribadi sang superstar.

Kemampuan Elvis memukul dan menendang dengan teknik beladiri bisa dilihat pada adegan-adegan perkelahian di film-filmnya. Memang tak sebagus aktor beladiri, namun cukup membantu Elvis dalam mempercantik aktingnya saat adegan berkelahi.




¸,¤°´'`°•.¸¸.•°´'`°¤,¸

Di tanah air, ada Iwan Fals. Seperti halnya Elvis, Iwan juga musisi yang banyak penggemar. Pelantun tembang hits di tahun 80-an, Oemar Bakrie ini termasuk salah seorang legenda hidup di kancah musik Indonesia.

Selain pintar bermain gitar dan mencipta lagu, Iwan juga pandai memainkan jurus beladiri. Sejak muda Iwan berlatih Karate di perguruan Wadokai. Setelah berkeluarga dan mempunyai anak, putra sulung (almarhum) Galang Rambu Anarki juga diikutkan latihan Karate.
Setelah menyandang sabuk hitam, Iwan yang sempat kuliah di publisistik juga melatih Karate di kampusnya. Di lingkungan tempat tinggal, Iwan juga memiliki dojo.

Hingga sekarang, Iwan yang menyandang Dan IV Karate Wadokai di sela kesibukannya bermusik tetap menyempatkan waktu melatih di dojonya dan sesekali ia berlatih di dojo pendiri Wadokai Indonesia, Shihan Taman.







 
¸,¤°´'`°•.¸¸.•°´'`°¤,¸


Kembali ke Amerika Serikat, ada Steven Seagal. Siapa yang tak kenal jago
Aikido Dan VII ini? Film-film awal Steven di era 90-an turut berperan dalam mempromosikan lebih luas Aikido ke berbagai penjuru dunia. Meski ada pro kontra, karena ia lebih banyak menampilkan Aikido keras daripada sisi halusnya di setiap film.
Beberapa tahun terakhir, selain tetap syuting film, Steven Seagal menambah profesi baru sebagai musisi. Hobinya bermain gitar disalurkan lewat beberapa show musik bahkan merilis album. Situs resminya pun sekarang dominan menampilkan Steven Seagal dengan gitarnya.

Inner Power




Sebagai praktisi dari suatu seni beladiri tentunya Kita sering mendengar tentang Ki (dalam seni beladiri Jepang), Chi (dalam seni beladiri China), Prana (dalam seni beladiri India) atau dalam seni beladiri di Indonesia lebih dikenal dengan tenaga dalam. Dalam hal ini penulis menggunakan Ki sebagai hal yang dimaksud.

APA ITU KI?

Ki atau tenaga dalam dalam seni beladiri adalah gabungan pikiran, hati, dan semangat. Seorang praktisi seni beladiri yakin akan adanya kekuatan yang mengalir lewat alam dan hal itu bisa membuka jalan kekuatan ini menjadi selaras dengannya. Ki ini bisa dilatih untuk mencapai keselarasan oleh praktisi beladiri dengan melatih raga dan pikiran hanya memfokuskan pada apa yang sebetulnya penting saat itu. Seorang praktisi seni beladiri harus melatihnya hingga bisa melakukan ini diluar sadar atau ketegangan mental dan praktisi bila merasakan ketegangan mental berarti ada yang kurang dalam Ki.

Bila raga, hati, dan semangat dalam keselarasan ini sudah menyatu pada praktisi seni beladiri maka segala kehidupan yang dijalaninya relatif lebih dikuasai dan orang lain akan merasakan keyakinan yang kuat ini sebagai kehadirian, sebagai kekuatan yang tak terlihat.

KI DITINJAU DARI ILMU PSIKOLOGI

Dalam psikologi orang yang mampu menguasai dirinya dan mengembangkan kepribadian sesuai dengan keinginan dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya disebut mencapai aktualisasi diri, yang dalam teori yang dikembangkan oleh Maslow merupakan hirarki tertinggi apa yang harus dicapai oleh manusia. Bila ditinjau dari pembahasan tentang Ki tadi maka aktualisasi diri merupakan Ki tertinggi yang bermanfaat bagi kehidupan.

Tentunya untuk mencapai Ki atau aktualisasi diri kita senantiasa harus mengasahnya dengan belajar dan melatihnya.

Terlepas pengertian Ki yang bersifat kekuatan supranatural, penulis di sini mencoba mengambil pendekatan yang agak filosofi dan ilmiah agar semua praktisi beladiri dapat melatih sehingga dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai hidup yang selaras dan mampu mencapai aktualisasi diri.
Untuk melatih Ki ini kita harus melatih keseimbangan kekuatan dengan melatih dan membentuk empat pilar.

Empat pilar itu adalah:

1. Kejujuran

2. Disiplin

3. Kreativitas

4. Menguasai diri dari rasa takut


KEJUJURAN

Kejujuran merupakan seluruh karakter moral yang harus dijalankan dengan ketulusan, berarti benar terhadap visi dan tujuan anda sendiri.



DISIPLIN

Disiplin adalah belajar dan latihan, orang yang sukses dalam bidang apapun apalagi dalam seni beladiri dan bisa menjadi yang terbaik atau terhebat selalu orang-orang yang membebankan dirinya sendiri dengan disiplin yang lebih keras dari apa saja yang dibebankan oleh orang lain.


KREATIVITAS

Kreativitas, orang selalu terkesan dengan kreativitas, bila kita melakukan sesuatu diluar kebiasaan, terutama sekali jika kita memperlihatkan bahwa kita peduli orang melihatnya. Kreativitas harus menjadi bagian dari kita untuk bertindak.


MENGUASAI DIRI DARI RASA TAKUT

Menguasai diri dari rasa takut, satu-satunya yang harus ditakutkan adalah rasa takut itu sendiri untuk menguasai diri dari rasa takut dengan menghilangkan ketidakpedulian terhadap rasa takut dengan membentuk pilar lain yaitu kejujuran, disiplin, dan kreativitas.


KEKUATAN KESEIMBANGAN

Untuk memancarkan Ki yang baik tentunya seorang praktisi beladiri harus menyeimbangkan antara kejujran, disiplin, kreativitas, dan menguaasai rasa takut secara seimbang dan selaras.


ORANG-ORANG YANG BERHASIL MENCAPAI KI TERTINGGI

Morihei Ueshiba, tokoh Aikido, bekerja keras dan lama sekali untuk menyempurnakan Ki-nya. Di akhir usia tujuhpuluhan, ia sering mendemonstrasikan kebolehannya dengan melawan lima atau enam lawan sekaligus dan selalu dapat mengalahkan lawannya.

Beliau menjelaskan, "Tidak peduli bagaimana cepatya lawan menyerang atau betapa lambatnya saya bertindak, saya tidak bisa dikalahkan, ini bukan berarti teknik saya lebih cepat….. ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kecepatan, saya menang dari awalnya. Begitu pikiran menyerang melintasi pikiran lawan saya, ia sudah kalah tidak peduli bagaimanapun cepatnya menyerang. Saya melihat dengan jelas bahwa gerakan dalam seni beladiri berkobar-kobar bila pusat Ki dikonsentrasikan dalam pikiran dan raga seseorang. Semakin tenang, semakin jelas pikiran saya jadinya. Saya bisa melihat pikiran-pikiran dengan intuitif, termasuk maksud-maksud kekerasan dari orang lain".

Demikian pula dengan tokoh-tokoh karateka legendaris, seperti Yasutsune Anko Itosu yang pada usia 75 tahun masih melakukan pertarungan dan selalu dimenangkannya dan beliau dengan kreativitasnya berhasil menciptakan banyak KATA.

Semua contoh di atas diperoleh dari hasil kejujuran, disiplin, kreativitas dan menguasai diri dari rasa takut. Mereka berhasil mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan keinginannya.


Dapat diambil hikmahnya dari tokoh-tokoh yang mempunayi Ki yang lebih baik adalah mereka tidak pernah menggunakan waktunya menciptakan tingkah yang macam-macam untuk membuat kesan pada orang lain, tapi mengkonsentrasikan pada pembentukan diri sendiri menjadi apa yang ia inginkan.

Tentunya kita bisa belajar pada mereka dengan memfokuskan Ki sebagai sistem nilai kita dengan menyusunnya satu demi satu yaitu apa yang kita peroleh dari pendidikan, penglaman, agama, etika, dan persepsi kita tentang siapa kita dan mau jadi apa kita! Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi bahan kajuan dan bermanfaat. (IGA)