Welcome! سلام

“jika langit adalah
lembaran kertas dan lembayung senja adalah tinta emas,
maka semoga tinta itu akan menuliskan semburat
yang tersembunyi diantara arak-arakan awan kepada langit,
agar dia mampu meng'ejanya








Jumat, 13 Juli 2012

Orang-orang Yang di Do'a kan Oleh Para Malaikat


Insya Allah berikut inilah orang - orang yang didoakan
oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.

Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka
malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya.
Dia tidak akan bangun hingga Malaikat berdoa
'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena
tidur dalam keadaan suci".
(Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah
bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh
Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)


2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.

Rasulullah SAW bersabda,
"Tidaklah salah seorang diantara
kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada
dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoa
kannya “Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'"
(Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra.,
Shahih Muslim no. 469)


3. Orang - orang yang berada di shaf barisan depan di
dalam shalat berjamaah.

Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat
kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf
terdepan"
(Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra'
bin 'Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani
dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)


4. Orang - orang yang menyambung shaf pada
sholat
berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan
di dalam
shaf).

Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat
kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf"
(Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah,
Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra.,
hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih
At Targhib wat Tarhib I/272)


5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam
selesai membaca Al Fatihah.

Rasulullah SAW bersabda,
"Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim
waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin',
karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan
malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu".
(Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra.,
Shahih Bukhari no. 782)


6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah
melakukan shalat.


Rasulullah SAW bersabda,
"Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa ) kepada
salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat
shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal
wudhunya, (para malaikat) berkata,
“Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah,
Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir
menshahihkan hadits ini)


7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan
'ashar secara
berjama'ah.

Rasulullah SAW bersabda,
"Para malaikat berkumpul pada saat shalat
shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba)
pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga
shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari
tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada
waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada
siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan
malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal,
lalu Allah bertanya kepada mereka,
'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?',

Mereka menjawab,
“Kami datang sedangkan mereka sedang
melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan
mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka
pada hari kiamat"
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra.,
Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh
Syaikh Ahmad Syakir)


8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa
sepengetahuan orang
yang didoakan.

Rasulullah SAW bersabda,
"Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan
tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah
doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada
seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali
dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan,
maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun
mendapatkan apa yang ia dapatkan"
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud
Darda' ra., Shahih Muslim no. 2733)


9. Orang - orang yang berinfak.

Rasulullah SAW bersabda,
"Tidak satu hari pun dimana pagi harinya
seorang hamba ada padanya kecuali dua malaikat turun
kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata,
'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'.
Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta
orang yang pelit'"
(Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari
Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan
Shahih Muslim no. 1010)


10. Orang yang sedang makan sahur.

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan
para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada
orang - orang yang sedang makan sahur"
Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa "sunnah"
(Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani,
meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra.,
hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani
dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)


11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.

Rasulullah SAW bersabda,
"Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya
kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya
yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang
kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja
hingga shubuh"
(Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra.,  

Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar,
"Sanadnya shahih")
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan
kepada orang lain.


Rasulullah SAW bersabda,
"Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah
bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah
diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi,
bahkan  semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan,
semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan
kebaikan kepada orang lain"
(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah
Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam
Kitab Shahih At Tirmidzi
II/343)    

The falling leaf doesn’t hate the wind

^T e r e   L i y e^

The falling leaf doesn’t hate the wind
adalah
Kalimat anonymous yang dipopulerkan dalam
Film Jepang
Zatoichi.    

✿ ◄▬▬▬▬▬► ✿ ◄▬▬▬▬▬► ✿

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin…
Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja.

Tak melawan......
Mengikhlaskan semuanya.

Tak ada yang perlu disesali.
Tak ada yang perlu ditakuti.
Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya.
Biarkan angin merengkuhnya,
Membawanya pergi entah ke mana.
Bahwa hidup harus menerima…
Penerimaan yang indah.
Bahwa hidup harus mengerti…
Pengertian yang benar.
Bahwa hidup harus memahami…
Pemahaman yang tulus.
Tak peduli lewat apa penerimaan,
Pengertian, dan pemahaman itu datang.
Tak masalah meski lewat kejadian
Yang sedih dan menyakitkan.


Seperti daun yang jatuh.......

Daun jatuh berguguran karena
Angin yang berhembus dan
Menggoyahkan ranting pepohonan,
Sehingga daun yang telah rapuh
Akan jatuh berguguran,,
Namun mereka tak menyalahkan angin,
Kerana mereka tahu bahwa tubuhnya
Yang telah lemah termakan usia,
Mereka yang jatuh terhembus oleh angin
Adalah mereka yang telah mencapai batas waktunya....

Ketika mereka hidup di atas pohon,
Mereka sangat bermanfaat bagi kehidupan di bumi..
Dan ketika mereka gugur manfaat itu akan hilang.....
Namun jika mereka sabar,, tabah,, tawakal
Dan pasrah ada sesuatu yang indah
Menanti di depan sana...

Mereka sadar bahwa batas waktu hidupnya adalah
Sampai ketika angin telah membuatnya
Jatuh berguguran di atas tanah,
Mereka tak menyalahkan angin
Kerana mereka yakin angin akan
Menghantarkan mereka pada kebahagiaan
Di akhir hidupnya nanti

Mereka sadar bahwa dengan menyalahkan angin
Mereka tak akan mendapat manfaat apapun,
Mereka akan tetap di pandang daun yang gugur
Yang mengotori tanah.

Namun mereka mampu bangkit
Menatap masa depan, mereka memiliki harapan
Dengan berpikir positif terhadap takdir
Yang disuratkan olehNya.

Kerana mereka yakin bahawa
Di setiap kejadian pasti akan ada hikmahnya,
Termasuk gugurnya mereka diatas tanah.

Saat mereka berguuran di atas tanah,
Mereka tahu bahwa mereka
Akan di kumpulkan dengan saudaranya yang lain,.
Tapi mereka berkumpul
Bukan untuk menjadi parasit
Bagi ekosistem kehidupan,
Namun menjadi sumber Pertumbuhan daun-daun baru...

Mereka tahu bahwa akhir hayatnya
Akan di tutup dengan hal yang bermanfaat
Tak ada kesedihan untuk menatap kehidupan
Setelah hembusan angin
Yang menyebabkan mereka gugur,
Kerana mereka tahu apa yang harus dilakukan.

Tidak lagi bergantung pada batang,
Memohon pada akar, ataupun menyalahkan angin.
Mereka hidup dengan penuh optimisme,
Yakin bahawa garis kehidupan mereka
Sudah dipersiapkan dengan sangat indah
Oleh Maha PenciptaNya.

Hanya perlu bersabar, dan terus berusaha
Untuk menemukan babak yang diinginkannya,
Tanpa harus mengeluh
Ataupun menyalahkan
keadaan                                              

Senin, 09 Juli 2012

Tekad Mulia


*°•..¸¸´ ¸.´´¯`.¸¸. .

Terdiam bukan karena bisu,
Kemudian berjalan mematikan langkah.
Yang paling terbesar dalam kehidupanku
Hanyalah apabilah ku mampu bangkit kembali
Dari sebuah kegagalan.
Kerana kegagalan bukan berarti
Suatu penghambat masa depan,
Namun menjadi suatu penopang
Untuk menggapai kesuksesan.

Membalas kebaikan dengan kejahatan adalah
Perang  yg serendah-rendahnya.
Membalas kejahatan dengan kejahatan,
Bukanlah perikemanusiaan.

Membalas kebaikan dengan kebaikan
adalah hal biasa.
Membalas kejahatan dengan kebaikan
adalah cita-cita kemanusiaan yg setingginya.

Kita harus sanggup hidup
Untuk memberi cita-cita itu bertumbuh.
Barangsiapa yang hari ini sama dengan kemarin,
Maka tertipulah dia.

 Ambillah waktu untuk berfikir,
Berdoa dan belajar itu adalah sumber kekuatan,
Ketenangan dan kebijaksanaan.
Setiap orang dapat mencapai kejayaan
Dalam hal apa saja,
Asalkan ia sangat menyukai pekerjaan yang dilakukan.


*
°•..¸¸´ ¸.´´¯`.¸¸. .
*°•..¸¸´ ¸.´´¯`.¸¸. .

Rabu, 04 Juli 2012

KEUTAMAAN BULAN SYA’BAN



Mari kita sambut bulan Ramadhan yang penuh berkah mulai bulan
Sya’ban ini.Kita persiapkan diri kita baik fisik dan rohani untuk bulan
yang penuh karunia tersebut. Mempersiapkan rohani kita adalah
dengan mulai mempelajari hal-hal penting yang perlu kita amalkan
selama bulan tersebut. Kita buka kembali pelajaran fiqhus-syiyam kita,
yaitu  fikih berpuasa yang benar dan sesuai ajaran. Kita sadarkan diri
dan kesadaran kita akan pentingnya bulan tersebut bagi agama dan
keimanan kita.

Secara fisik, kita juga harus mempersiapkan diri di bulan ini dengan
melatih diri memperbanyak ibadah dan khususnya puasa. Itulah salah
satu hikmah kita dianjurkan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban ini.
Dan di bulan Sya’ban ini juga ada malam nisfu sya’ban, yaitu malam
pertengahan bulan Sya’ban. Lepas dari kuat tidaknya dalil mengenai
amalam pada malam tersebut, namun malam itu bisa kita jadikan waktu
pengingat kembali akan persiapan-persiapan kita dalam menyambut
bulan Ramadhan yang penuh maghfirah.

Berikut ini hadist-hadist seputar keutamaan bulan Sys’ban semoga
bisa kita baca dan amalkan:


Ƹ̴ӂ̴ʒ Anjuran Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban


Dari Aisyah r.a. beliau berkata:”Rasulullah s.a.w.
Berpuasa hingga kita mengatakan tidak pernah tidak puasa, dan
beliau berbuka (tidak puasa) hingga kita mengatakan tidak puasa,
tapi aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu
bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat
beliau memperbanyak puasa selain bulan Ramadhan kecuali pada
bulan Sya’ban”.
(H.R. Bukhari).

Beliau juga bersabda:
”Kerjakanlah ibadah apa yang engkau mampu, sesungguhnya
Allah tidak pernah bosan hingga kalian bosan”.

Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah s.a.w.:
’Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu memperbanyak
berpuasa (selain Ramadhan) kecuali pada bulan Sya’ban?

Rasulullah s.a.w. menjawab:
”Itu bulan dimana manusia banyak melupakannya antara Rajab dan
Ramadhan, di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke
Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat,
aku dalam keadaan puasa”.
(H.R. Abu Dawud dan Nasa’i).



Ƹ̴ӂ̴ʒ Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban
Dari A’isyah:
“Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang,
sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena
curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak.

Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata:
“Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”.

Lalu aku menjawab:
“Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak
(menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”.

Lalu beliau bertanya:
“Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”.

“Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku.

“Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya
pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan,
memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan
menyingkirkan orang-orang yang dengki”
(H.R. Baihaqi)

Menurut perawinya hadis ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke
Sahabat),namun cukup kuat.

Dalam hadis Ali, Rasulullah bersabda:
“Malam nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah dengan salat dan puasalah pada
siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu,
lalu Allah bersabda:
“Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi
akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku
bebaskan hingga fajar menyingsing.”
(H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).

Ulama berpendapat bahwa hadis lemah dapat digunakan untuk Fadlail A’mal
(keutamaan amal). Walaupun hadis-hadis tersebut tidak sahih, namun melihat
dari hadis-hadis lain yang menunjukkan kautamaan bulan Sya’ban, dapat
diambil kesimpulan bahwa malam Nisfu Sya’ban jelas mempunyai keuatamana
dibandingkan dengan malam-malam lainnya.


Ƹ̴ӂ̴ʒ Bagaimana merayakan malam Nisfu Sya’ban?
Adalah dengan memperbanyak ibadah dan salat malam dan dengan puasa.
Adapun meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan berlebih-lebihan seperti
dengan salat malam berjamaah, Rasulullah tidak pernah melakukannya.

Sebagian umat Islam juga mengenang malam ini sebagai malam diubahnya
kiblat dari masjidil Aqsa ke arah Ka’bah.
Jadi sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan cara
memperbanyak ibadah, salat, zikir membaca al-Qur’an, berdo’a dan amal-amal
salih lainnya. Wallahu a’lam



Ƹ̴ӂ̴ʒ Keutamaan di Bulan Sya’ban
Sya’ban adalah istilah bahasa Arab yang berasal dari kata syi’ab yang
artinya jalan di atas gunung. Islam kemudian memanfaatkan bulan Sya’ban
sebagai waktu untuk menemukan banyak jalan, demi mencapai kebaikan.
Karena bulan Sya’ban terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan,
karena diapit oleh dua bulan mulia ini, maka Sya’ban seringkali dilupakan.
Padahal semestinya tidaklah demikian. Dalam bulan Sya’ban terdapat
berbagai keutamaan yang menyangkut peningkatan kualitas kehidupan
umat Islam,baik sebagai individu maupun dalam lingkup kemasyarakatan.
Karena letaknya yang mendekati bulan Ramadhan, bulan Sya’ban memiliki
berbagai hal yang dapat memperkuat keimanan.

Umat Islam dapat mulai mempersiapkan diri menjemput datangnya bulan
termulia dengan penuh suka cita dan pengharapan anugerah dari Allah SWT
karena telah mulai merasakan suasana kemuliaan Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda,
ذاكَ شهر تغفل الناس فِيه عنه ، بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم — حديث صحيح رواه أبو داود النسائي

Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena
letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadan. Bulan Sya’ban adalah
bulan diangkatnya amal-amal. Karenanya, aku menginginkan pada saat
diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang berpuas
a.”
(HR Abu Dawud dan Nasa’i)
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pengakuan Aisyah,
bahwa Rasulullah SAW
tidak pernah berpuasa (sunnah) lebih banyak
daripada ketika bulan Sya’ban. Periwayatan ini kemudian mendasari 
kemuliaan bulan Sya’ban di antar bulan Rajab dan Ramadhan.Karenanya,
pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berdzikir dan
meminta ampunan serta pertolongan dari Allah SWT. Pada bulan ini,
sungguh Allah banyak sekali menurunkan kebaikan-kebaikan berupa
syafaat
(pertolongan), maghfirah (ampunan), dan itqun min adzabin naar (pembebasan dari siksaan api neraka).

Dari sinilah umat Islam, berusaha memuliakan bulan Sya’ban dengan
mengadakan shodaqoh dan menjalin silaturrahim. Umat Islam di Nusantara
biasanya menyambut keistimewaan bulan Sya’ban dengan mempererat
silaturrahim melalui pengiriman oleh-oleh yang berupa makanan kepada
para kerabat, sanak famili dan kolega kerja mereka. Sehingga terciptalah
tradisi saling mengirim parcel di antara umat Islam.
Karena, di kalangan umat Islam Nusantara, bulan Sya’ban dinamakan
sebagai bulan Ruwah, maka tradisi saling kirim parcel makanan ini
dinamakan sebagai Ruwahan.Tradisi ini menyimbolkan persaudaraan
dan mempererat ikatan silaturrahim kepada sesama Muslim.


Ƹ̴ӂ̴ʒ Nishfu Sya’ban
Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriyah.
Keistimewaan bulan ini terletak pada pertengahannya yang biasanya
disebut sebagai Nishfu Sya’ban. Secara harfiyah istilah Nisfu Sya’ban
berarti hari atau malam pertengahan bulan Sya’ban atau tanggal 15 Sya’ban.

Kaum Muslimin meyakini bahwa pada malam ini, dua malaikat pencatat
amalan keseharian manusia, yakni Raqib dan Atid, menyerahkan catatan
amalan manusia kepada Allah SWT, dan pada malam itu pula buku
catatan-catatan amal yang digunakan setiap tahun diganti dengan yang baru.

Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang
penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali,
~ pada malam ke-13 bulan Sya’ban Allah SWT memberikan seperti
tiga syafaat kepada hambanya.
~ Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. 
~ Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak
sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun.
Karepa pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia
penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.

Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai 
malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu
Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi,
terutama kepada hamba-Nya yang saleh.

Dengan demikian, kita sebagai umat Islam semestinya tidak melupakan
begitu saja, bahwa bulan sya’ban dalah bulan yang mulia. Sesungguhnya
bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan.
Dari sini, umat Islam dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mempertebal
keimanan dan memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan.

wallaahu a’lam bish-showaab

Minggu, 01 Juli 2012

Wait a minute......!!!!!!!!!!






That 's Great....












Allah Selalu Mengingat Hamba yang Mengingat-Nya

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-,
ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku.
Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian,
Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan,
Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).
Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta.
Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa.
Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa),
maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.”
(HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).


Sholat Malam



Cuma bertekad mau bangun sholat Malam sudah dicatat satu kebaikan,
Apalagi sampai melakukannya ...

Sebagian kita barangkali belum mengetahui bahwasanya dengan niatan saja
untuk beramal disertai tekad kuat namun tidak jadi mengamalkan karena
suatu sebab,itu sudah bernilai pahala dan dicatat satu kebaikan.
Bagaimana halnya jika sampai diamalkan.
Hal ini menunjukkan bahwa hendaklah kita bersemangat dalam kebaikan,
bahkan bertekad kuat untuk melakukan banyak amalan sholih.

Dalam hadits qudsi, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
diriwayatkan dari Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ

“Sesungguhnya Allah mencatat berbagai kejelekan dan kebaikan lalu
Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang bertekad untuk melakukan
kebaikan lantas tidak bisa terlaksana, maka Allah catat baginya satu kebaikan
yang sempurna. Jika ia bertekad lantas bisa ia penuhi dengan melakukannya,
maka Allah mencatat baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipatnya
sampai lipatan yang banyak.”
(HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 130)

Ibnu Rajab Al Hambali berkata, “Yang dimaksud ‘hamm’ (bertekad) dalam hadits
di atas adalah bertekad kuat yaitu bersemangat ingin melakukan amalan tersebut.
Jadi niatan tersebut bukan hanya angan-angan yang jadi pudar tanpa ada tekad
dan semangat.”
(Ibnu Rajab Al Hambali, 2: 319)

Perihal bertekad dalam beramal di sini bisa kita saksikan pada hadits lainnya,

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

“Barangsiapa yang berdo’a pada Allah dengan jujur agar bisa mati syahid,
maka Allah akan memberinya kedudukan syahid walau nanti matinya diatas ranjangnya.”
(HR. Muslim no. 1908).

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنِ امْرِئٍ تَكُونُ لَهُ صَلاَةٌ بِلَيْلٍ فَغَلَبَهُ عَلَيْهَا نَوْمٌ إِلاَّ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ صَلاَتِهِ وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ

“Tidaklah seseorang bertekad untuk bangun melaksanakan shalat malam,
namun ketiduran mengalahkan nya, maka Allah tetap mencatat pahala
shalat malam untuknya dan tidurnya tadi adalah sebagai sedekah.”
(HR. An Nasai no. 1784, shahih menurut Syaikh Al Albani).